Menjadi Guru Bk diantara Label dan Ketulusan
Yatun Sundarsih,S.Pd
Guru MTsN 7 Jember
Jujur saja, ketika pertama kali mendengar kata "pahlawan tanpa tanda jasa" dilekatkan pada profesi seorang guru, sering kali ada beban tersendiri yang menghampiri. Apalagi bagi kami seorang guru yang berada di ruang Bimbingan dan Konseling. Selama bertahun-tahun, ruangan kami lebih sering dikenal sebagai tempat yang menakutkan—ruang eksekusi bagi anak-anak yang dilabeli "bermasalah", nakal, atau membolos maupun permasalahan yang lainnya. Namun, jika mau merenung lebih dalam, di sinilah letak esensi paling murni dari perjuangan seorang pendidik untuk anak-anak bangsa.
Pahlawan itu tidak selalu identik dengan mereka yang selalu berdiri gagah di depan kelas sambil memegang kapur atau spidol, menerangkan rumus-rumus rumit hingga murid meraih nilai sempurna. Namu ada pahlawan yang jalannya jauh lebih senyap dan nyaris tidak terdengar dan terlihat .Mereka yang duduk di sebuah ruangan kecil, mendengarkan Isak tangis yang tertahan, atau meretas keheningan dari seorang remaja yang merasa dunia sedang tidak berpihak padanya.Ataupun Ketika mendengarkan seseorang yang merasa putus asa dan kehilangan semangat dalam belajar maupun dalam kehidupan yang dijalaninya.
Menjadi guru BK mengajari saya bahwa tidak semua luka kelihatan di permukaan. Ada anak yang datang ke sekolah dengan senyum lebar, padahal di rumahnya ia harus menghadapi beban keluarga yang teramat berat. Ada pula murid yang terlihat menyerah pada pelajaran, padahal sebenarnya ia hanya butuh satu orang saja yang mau mempercayai kemampuannya. Di titik itulah tugas kami bermula: menjadi pendengar tanpa menghakimi, dan menjadi pegangan saat mereka merasa kehilangan arah.Seta menjadi shabat dikala semua orang menjauhinya.
Kami memang tidak mengajarkan cara menghitung integral atau menghafal sejarah dunia. Namun, kami belajar bersama mereka tentang cara bertahan hidup, memahami emosi diri, serta menemukan kembali rasa percaya diri yang sempat patah. Tidak ada piagam emas atau piala berkilau yang kami dapatkan ketika seorang murid akhirnya berhasil keluar dari masa tergelapnya. Hadiah terindah bagi kami sederhana: saat melihat anak yang tadinya murung mulai kembali tersenyum, atau ketika seorang murid yang hampir putus sekolah akhirnya bisa melangkah mantap meraih cita-citanya.
Gelar "pahlawan tanpa tanda jasa" sejatinya bukanlah piala untuk disombongkan. Gelar itu adalah pengingat untuk terus bekerja dengan hati, meski sering kali perjuangan ini tidak terlihat oleh banyak orang. Selama kita masih mau membuka pintu dan melapangkan dada untuk mendengar kisah anak-anak kita, selama itulah lentera kebaikan itu akan terus menyala.