Seragam adalah pakaian yang dikenakan anggota suatu organisasi atau komunitas sosial untuk menunjukan kesatuan hubungan dan partisipasi mereka dalam organisasi atau komunitas tersebut. Seragam dapat dengan mudah kita jumpai di sekitar kita, seperti dalam sepak bola, sanggar pencak silat, juga dalam sekolah.

Dalam perkembangannya, pendidikan yang ada di Indonesia menetapkan 3 warna khas untuk seragam yang dikenakan para siswa mulai dari jenjang paling dasar hingga yang paling tinggi. Warna seragam yang berbeda-beda ini mulai diberlakukan sejak zaman pemerintahan Soeharto, lebih tepatnya pada tahun 1982. Seperti yang tertuang dalam Surat Keputusan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah no 52 tanggal 17 Maret 1982, di mana pemerintah resmi menetapkan penggunaan sekolah termasuk warna yang digunakan.

Mengekor dari pembahasan di atas, madrasah kita pun juga punya seragam tetap yang jadi ciri khas dibanding sekolah-sekolah lain. Warna putih-putih yang melekat di badan sebagai identitas pembeda dengan sekolah SMP yang berseragam biru-putih ataupun sekolah-sekolah menengah yang lain.

Namun, apakah kalian pernah berpikir kenapa warna putih-putih yang dipilih? Apa filosofi yang ada di dalamnya?

Untuk alasan pasti kenapa warna putih-putih yang dipilih, penulis sendiri pun juga tidak tahu. Di sini penulis hanya ingin mengulas sedikit tentang filosofinya saja.

Pertama, putih adalah warna kesukaan Rasululloh ﷺ. Rasululloh ﷺ menyukai pakaian-pakaian berwarna putih, beliau juga memerintahkan orang-orang muslim untuk mengenakannya. Beliau bersabda :

“Pakailah pakaian-pakaian putih kalian, karena pakaian putih adalah pakaian terbaik.” HR. Abu Dawud dan Tarmidzi.

Jadi, tanpa disadari sebenarnya kita telah melakukan sesuatu yang disukai Rasulullah.  Kemudian, agar yang kita lakukan ini juga bernilai ittiba’ (mengikuti) sunah Nabi ﷺ, maka harus ada niat mengikuti sunah beliau. Sebab, ketika kita hanya memakai pakaian putih tanpa ada niatan mengikuti sunah beliau, maka sia-sia saja, semua itu tidak akan bernilai ibadah. Maka dari itu, semoga setelah membaca tulisan ini kita bisa merubah kebiasaan yang sebelumnya hanya memakai seragam madrasah dengan kebiasaan baru yakni mematuhi aturan sekolah serta mengikuti sunah Nabi.

Mungkin ada yang bertanya, “Trus kenapa emangnya kalau kita udah ikutin sunah Nabi?”

Ok, saya jawab. Dengan mengikuti sunah Nabi ﷺ berarti ada pertanda kalau kita akan dicintai Allah. Sebab Allah sudah berjanji akan mencintai dan mengampuni siapa saja yang mengikuti sunah nabi-Nya. Bukankah dalam Alquran sudah jelas tertulis,

“Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Jika kalian memang benar-benar mencintai Allah maka ikutilah Aku. Dengan begitu Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’” [QS. Ali Imran : 31]

Siapa kiranya yang tidak mau dicintai oleh Allah, diampuni dosa-dosanya? Pasti semua mau, kan? Maka dari itu, mari kita ikuti sunah beliau dengan bangga mengenakan seragam putih khas madrasah kita tercinta.

Kedua, putih adalah simbol kesucian. Tiap warna yang ada di dunia memiliki karakter masing-masing. Merah melambangkan keberanian, biru melambangkan keberanian dan kemandirian, begitu pula dengan putih yang melambangkan kesucian. Dan asal kalian tahu, ternyata pakaian mempunyai pengaruh kepada pemakaianya.

Dalam kitab Iqtidhlo as Shirot al Mustaqim, Al Imam Taqqiyyuddin menjelaskan panjang lebar mengenai pengaruh pakaian kepada pemakainya. Beliau mengatakan jika seseorang memakai pakaian perang, maka dalam dirinya akan tumbuh jiwa seorang petarung. Ketika ia mengganti pakaiannya dengan pakaian ulama, maka akan tumbuh perasaan tenang dan khusuk para ulama. Dan ketika ia mengganti pakaiannya dengan pakaian olahraga, maka akan tumbuh rasa semangat dan bergas.

Begitu juga dengan pakaian putih. Pakaian putih pasti juga punya pengaruh kepada pemakaianya, pengaruh itu baru bisa dirasakan ketika si pemakai menggantinya dengan pakaian berwarna lain. Bahkan ada beberapa penjara di Amerika dan Cina yang mewajibkan narapidananya untuk selalu mandi di pagi hari dan memakai pakaian baru berwarna putih. Pengaruhnya pun tampak pada jumlah narapidana yang berpindah ke agama islam.

Dalam riset Pew Research, suatu penelitian tentang kondisi para pemeluk agama di penjara-penjara AS, disebutkan bahwa sebanyak 51  persen respoden menyatakan jika Islam adalah agama dengan jumlah pemeluk yang paling pesat berkembang. Di posisi kedua ada Protestan dengan 47 persen. Di bawahnya ada Pagan sebanyak 34 persen, spiritual suku asli Amerika sebanyak 24 persen, Yahudi sebanyak 19 persen, Katolik sebanyak 14 persen, tidak terafiliasi sebanyak 12 persen, Budha sebanyak 12 persen, Mormon sebanyak 3 persen, Kristen Ortodoks 3 persen, dan Hindu 1 persen.

Dengan begini, kita tahu jika pakaian putih memang punya pengaruh besar kepada napi-napi tersebut. Melalui pakaian putih yang mereka kenakan, sedikit demi sedikit hati mereka pun terketuk untuk kembali kepada kesucian yakni petunjuk Allah. Ini adalah orang kafir, bagaimana jadinya kalau yang mengenakan pakaian putih adalah orang Islam? Pengaruh yang timbul pastinya semakin besar, bukan?

Ketiga, Tafa’ul. Tafa’ul adalah mengharapkan suatu kebaikan dari suatu perbuatan. Contoh yang paling banyak kita jumpai ialah dalam pemilihan nama bayi. Orang tua pasti tidak akan sembarangan memilih nama untuk buah hati mereka. Alasannya jelas, mereka berharap sang buah hati akan tumbuh seperti nama yang mereka berikan. Jika mereka menamainya dengan Muhammad, pasti mereka berharap semoga sang buah hati kelak menjadi orang yang terpuji, baik akhlaknya seperti Nabi Muhammad ﷺ.

Dalam sejarah, Rasulullah ﷺ pun juga menyukai Tafa’ul. Di berbagai kesempatan beliau mengajarkan kepada para sahabat mengenai Tafa’ul. Seperti ketika beliau hendak melakukan perjanjian Hudaibiyah lalu datang seseorang yang bernama Suhail (mudah), beliau langsung berbesar hati dan yakin kalau semua urusan akan berjalan mudah. Beliau ingin merubah pandangan sahabat yang dulu pada zaman Jahiliah mempercayai Tasya’um atau lebih kita kenal dengan tahayul yang terkesan berburuk sangka kepada Allah dengan Tafa’ul.

Dalam konteks ini, marilah kita amalkan Tafa’ul yang diajarkan Nabi ﷺ dengan seragam putih yang selalu kita kenakan. Seragam putih yang selalu menutup dada ini semoga membuat hati dalam dada kita juga ikut putih dan bersih. Bukan hanya putih luarnya saja, tapi juga dalamnya. Seperti kebiasaan para ulama meminum susu di awal tahun baru Islam, berharap semoga hati mereka menjadi putih dan bersih seperti susu. Aamiin. Dari ketiga poin di atas, semoga kita bisa semakin bangga dan cinta kepada madrasah kita. Memaknai seragam putih kita bukan hanya sekedar sebuah seragam belaka, tapi punya banyak arti yang tertanam. Arti sebuah ibadah, arti sebuah kesucian, juga tentang berhusnuddhon kepada Allah.

*) Ahmad Fikri Ahsan

By maone

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *